ASKEP PADA KEJANG

TEORI KONSEP PENYAKIT –> klik

PENGKAJIAN

Hal-hal yang perlu dikaji pada anak yang mengalami kejang :

1. Riwayat kesehatan bayi atau anak.

Riwayat kelahiran atau dimasa neonatus, penyakit kronis, neoplasma, immunosupresi, infeksi telinga dalam ataum infeksi ekstra kranial (OMA), meningitis atau enchepalitis, tumor otak yang merupakan penyebab terjadinya kejang sehingga sangat perlu dilakukan anamnese.

2. Pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelainan neurologik, peningkatan TTV, yang biasanya terjadi pada anak yang mengalami kejang. Kejang terutama terjadi pada anak golongan umur 6 bulan – 4 tahun. Pemeriksaan fisik dipengaruhi oleh usia anak dan organime penyebab, perubahan tingkat kesadaran, irritable, kejang tonik-klonik, tonik, klonik, takikardi, perubahan pola nafas, muntah dan hasil pungsi lumbal yang abnormal.

3. Psikososial atau faktor perkembangan.

Umur, tingkat perkembangan, kebiasaan (apakah anak merasa nyaman, waktu tidur teratur, benda yang difavoritkan), mekanisme koping, pengalaman dengan penyakit sebelumnya.

4. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.

5. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam

6. Lama berlangsungnya kejang.

7. Frekuensi terjadinya kejang dalam 1 tahun.

8. Adanya anggota keluarga yang pernah menderita kejang sebelumnya.

Pengkajian Neurologik

1. Tanda – Tanda Vital

Suhu, tekanan darah, denyut jantung, TD, Denyut nadi.

2. Hasil pemeriksaan kepala

a. Fontal : menonjol, rata, dan cekung.

b. Lingkar kepala ( di bawah umur 2 tahun )

c. Bentuk umum.

3. Reksi pupil

a. Ukuran

b. Reaksi terhadap cahaya

c. Kesamaan respons

4. Tingkat kesadaran

a. Kewaspadaan (respon terhadap panggilan dan perintah )

b. Iritabilitas

c. Letargi dan rasa mengantuk

d. Orientasi terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

5. Afek

Alam perasaan, labilitas.

6. Aktivitas kejang

Jenis dan lamanya.

7. Fungsi sensoris

a. Reaksi terhadap nyeri

b. Reaksi terhadap suhu

8. Refleks

a. Refleks tendo superfisial dan dalam

b. Adanya refleks patologik ( misalnya : Babinski )

9. Kemampuan intelektual

a. Kemampuan menulis dan menggambar

b. Kemampuan membaca

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terjadi injury berhubungan dengan aktivitas kejang, serangan mendadak dari perubahan aliran darah ke otak.

2. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan, aspirasi.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya informasi perawatan rumah.

4. Gangguan konsep diri ( gambaran diri / harga diri ) berhubungan dengan kehilangan kontrol dari tubuh, reaksi lingkungan terhadap anak.

B. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terjadi njury berhubungan dengan aktivitas kejang, serangan mendadak dari perubahan aliran darah ke otak.

Intervensi :

a. Pre Konvulsif

· Mengidentifikasi faktor resiko pre konvulsif untuk penyakit kejang

· Singkirkan benda – benda yang ada di sekitar anak yang dapat melukainya.

· Monitor cardiopulmonal secara terus – menerus

· Kaji kadar gula darah

· Sediakan dan dekatkan peralatan suction

· Sediakan O2 sesuai dengan indikasi

b.Konvulsif

· Baringkan anak ditempat yang rata.

· Catat waktu, durasi, bagian tubuh yang terlibat dan frekuensi kejang.

· Atur pemberian pengobatan ( contoh Diazepam )

· Pertahankan jalan nafas ( Airway )

· Pastikan klien dalam keadaan aman.

c. Post Konvulsi

· Monitor TTV dan kesadaran klien

· Pertahankan jalan nafas efektif.

· Setelah anak bangun dan sadar berikan minum hangat, cairan untuk rehidrasi.

· Sediakan oral hygiene.

· Apabila kejang terlalu lama atau terjadi kejang berulang, segera bawa anak ke RS untuk menghindari gejala sisa.

2. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan, aspirasi.

Intervensi :

a. Baringkan pasien dengan sikap extensi / miringkan kepala klien untuk mencegah aspirasi.

b.Berikan O2 ( 1- 2 liter / menit ) bila berat, berikan hingga 4 liter.

c. Pada saat kejang berikan sudip lidah untuk mencegah supaya lidah tidak tergigit.

d. Lepaskan pakaian yang menggangu pernafasan ( misalnya ikat pinggang, gurita dan lain sebagainya ).

e. Observasi TTV secara kontinue setiap ½ jam.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya informasi perawatan rumah.

Intervensi :

a. Anjurkan orang tua mengenal kelainan alami kejang.

b.Diskusikan pengobatan, dosis, frekuensi, tujuan, efek samping, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kesalahan dosis.

c. Diskusikan rencana perawatan di rumah, serta perawatan selama kejang

d. Ajarkan kepada orang tua bagaimana cara mengobservasi dan menentukan pertolongan pertama yang aman dan legal.

4. Gangguan konsep diri ( gambaran diri / harga diri ) berhubungan dengan kehilangan kontrol dari tubuh, reaksi lingkungan terhadap anak.

Intervensi :

a. Jelaskan perilaku anak selama / setelah kejang kepada anak dan orang tua. Jangan sampai anak mengalami rasa malu akan perilakunya.

b.Informasikan kepada keluarga akan pentingnya memperlakukan anak–anak mereka seperti anak – anak yang lain.

c. Bantu orang tua untuk menentukan kegiatan perkembangan anak yang tepat.

d. Siapkan anak untuk menentukan atau melakukan kegiatan perkembangan anak yang tepat.

e. Dampingi anak / orang tua untuk mempergunakan sumber – sumber koping yang tepat.

EVALUASI

1. Anak terbebas dari cedera fisik.

2. Aktivitas kejang dapat dicegah atau dikendalikan.

3. Kerusakan sistem saraf otak tidak terjadi

4. Penurunan kesadaran tidak terjadi.

5. Anak memiliki harga diri dan citra diri yang meningkatkan kesejahteraan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s